Thursday, 17 March 2011

Balada Diculik dan Sandal Gunung


Siang itu, aku lagi kumpul bareng temen-temen ronin. Bersama-sama Ipul, Memey, Juju, dan Novan kami makan di sop buah Pak Ewok. Obrolan seru setelah satu semester berpisah karena kuliah diselingi dengan sebuah sms dari seorang teman ronin lain.
“Assalamualaikum, dewan ke badui yuk!” Ternyata si Hanifah yang sms.
Bunyi pesan dari si Hanifah, salah seorang teman ronin. Hmm, dulu memang pernah sih diajak pergi ke baduy, tetapi kalau sekarang terlalu mendadak untuk jalan-jalan yang serius. Maka aku bales saja,
“Aduh si Hanifah teh, mendadak pisan, ane kan ribet.”
Intinya perbincangan di sms selesai karena sudah menolak ajakan karena memang mendadak dan Hanifah pun sudah katakan “Ywdah nggak apa-apa.”
Akan tetapi, selang beberapa jam, datang lagi sms dari Hanifah
“Wan bsk beneran nggak bs? Bsk mau berangkatnya sama teman hnf yg dr ugm, berangkat paling siang.” Masih dengan pertimbangan tidak punya waktu yang dialokasikan untuk ke baduy walaupun sebenarnya mau ikut. Aku Cuma bisa jawab
“Bukannya ga mau, tp waktu’y g pas --‘,” Hanifah menyerah? Ternyata tidak.
“di pas-pasin aja...”
Hueeeeeeeh, ini intention-nya bukan ngajak, tetapi lebih tepatnya memaksa. Perbincangan selanjutnya pun diisi dengan ‘upaya’ persuasif agar aku betul-betul mau ikut pergi. Pada akhirnya aku pun tidak lagi bisa menolak tawaran jalan-jalan ke baduy. Alasannya adalah tidak ada cowok yang ikut pergi dari 4 orang yang akan berangkat. Walaupun sebenarnya tanpa cowok pun pasti tetap aja ga bakal ga jadi jalan-jalan ke baduy. Itu kata Salsa, teman seperjalanan dari jurusan arkeologi yang akan ketemu nanti di Rangkasbitung.
 Untunglah negosiasi izin ke orang tua tidak berjalan sulit. Karena agenda survey pesantren di daerah bekasi tidak jadi, sehingga aku tidak punya kewajiban untuk hari ahad dan senin. Setelah itu sedikit beres-beres pakaian sesuai dengan yang diperintahkan oleh pengajak jalan-jalan. Karena memang tidak ada yang punya pengalaman jalan-jalan ke baduy, ada sebuah kesalahan fatal. Membawa bekal kaos berwarna putih. Kenapa fatal? Karena ternyata kemudian kondisi jalan yang berbukit curam ditambah musim hujan membuat trek yang ditempuh jadi cukup sulit. Well, hal yang paling anarkis lagi adalah baju itu adalah satu favorit buat jalan-jalan. Hasilnya, sepulang dari baduy baju itu harus dicuci habis-habisan dan masih belum bersih 100%.
Ok, back to the journey
Paginya aku dan Hanifah menunggu bus jurusan Rangkasbitung-Bogor di pertigaan Laladon. Setelah menunggu seperempat jam, kira-kira pukul sembilan bus yang ditunggu pun datang. Kondisi bus sebenarnya cukup penuh, tapi Alhamdulillah setelah sampai kira-kira di daerah Jasinga, ada juga tempat duduk yang bisa diisi. Di dalam bus itu pun aku berkenalan dengan seseorang yang bersedia menunjukkan jalan nanti di Rangkasbitung menuju kampung Baduy. FYI, tidak ada satu pun dari kami yang pernah pergi ke kota Rangkasbitung sebelumya. Satu-satunya masalah di bus adalah ongkos jalan yang cukup mahal, 25ribu per orang! Hueeeh, padahal dengan kereta, si Salsa dari jakarta cuma keluar 2 ribu perak!
Kira-kira pukul setengah dua belas kami pun sampai di terminal Rangkasbitung. Keluar bus kami diserbu oleh banyak tukang ojek yang menawarkan jasa. Alhamdulillah, untung kami sudah bersama ’guide’ sehingga tidak perlu lagi tanya-tanya soal arah dan angkutan yang harus kami naiki.
Serbuan tukang ojek ternyata tidak cukup dengan penolakan secara halus. Mereka terus membuntuti dengan motornya dan semi memaksa untuk ikut mengambil jasa ojeknya. Yah, kesabaran itu memang tidak ada batasnya. Akan tetapi, gerutuan itu akhirnya tidak bisa dibendung. Tapi betul kata Hanifah, “Udah nggak apa-apa, mereka kan lagi cari duit, maklum sedikit lah!” Ya sudahlah, toh tidak jauh pun kami akhirnya ada angkot yang bisa kami naiki.
Kepada akang guide, kami mengutarakan maksud untuk menjemput satu lagi teman yang akan datang dengan kereta. Selain itu kami juga mencari pasar untuk berbelanja untuk konsumsi selama di kampung Baduy. Untunglah sesuai dengan petunjuk si akang bahwa stasiun, pasar, dan angkot kedua yang harus kami naiki berada di satu tempat. Mungkin daerahnya mirip-mirip seperti daerah Pasar Senen atau Pasar Anyar.
Karena Salsa memberi kabar bahwa dia masih berjarak tiga stasiun dari stasiun Rangkasbitung, aku dan Hanifah memutuskan untuk mencari bahan pangan dan beberapa keperluan pribadi. Belanja pertama kami menguras uang sebesar 21ribu rupiah. Yah, masih cukuplah uang buat ke baduy, pikirku. Maka keinginan untuk ambil uang di atm aku tepis jauh-jauh.
Tidak lama setelah shalat Dhuhur dan Ashar yang di-jama’ qashar, kereta yang ditumpangi Salsa sampai dan tim kami pun lengkap tiga orang. Dua orang lain cancel datang karena ada keperluan lain. Sebelum pergi, kami menyempatkan untuk makan siang. Harga makan siangnya cukup mahal, Rp10.000,- per porsi. Ironisnya si penjual mengucapkan harga tadi dengan embel-embel harga mahasiswa. “Yah, harga mahasiswa mah, 10rebu aja dah!” Glek, emang susah jadi mahasiswa Rangkasbitung, mending jadi mahasiswa Yogya deh.
Dari dekat stasiun, kami pun melanjutkan perjalanan ke terminal Aweh. Di terminal Aweh nanti ada mobil minibus yang akan mengantarkan ke pinggir kampung Baduy. Perjalanan di mobil minibus memakan waktu selama satu setengah jam. Diselingi dengan tidur, hujan, dan kebocoran akhirnya minibus sampai di pinggir kawasan Baduy, terminal Ciboleger. Ya, tidak bisa dibilang terminal juga sih, lebih tepat dikatakan tempat transit saja.
Walaupun sudah berada di pinggir kawasan Baduy, ternyata arus kapital sudah menjangkau daerah sana. Terbukti dengan berdirinya sebuah ritel franchise terkenal biasa kita temukan di kota. Turun dari minibus, kami langsung didatangi oleh seorang calo. Sebuah keniscayaan semua tempat pariwisata. Lapangan pekerjaan yang orientasinya pemerasan terhadap wisatawan. Akan tetapi, keadaan kami sangat awam soal pariwisata ke kampung Baduy. Sehingga keberadaan calo berada  bagi kami dan banyak wisatawan lain bagaikan malaikat penolong.
Di salah satu warung, kami pun dijelaskan soal keadaan kampung Baduy dan trek yang harus dilalui jika ingin masuk hingga ke kampung Baduy dalam. Jaraknya ke baduy dalam sekitar 12 kilometer dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Ada masalah lain sebenarnya. Bukan soal trek yang cukup jauh, tetapi kami di bulan larangan, Kawalu istilahnya. Di dalam bulan Kawalu sebenarya pihak kampung Baduy dalam tidak memperbolehkan ada satu orang asingpun yang memasuki ke wilayah mereka.
Semangat kami turun drastis. Bayangkan perjalanan ke Rangkasbitung buka termasuk murah dengan bus seharga 25ribu perak! Bagaimana ini? Akan tetapi, calo itu memberikan info celah kesempatan yang bisa kami gunakan untuk tetap jalan ke Baduy dalam. Katanya bisa saja kita masuk ke Baduy dalam asal bilang ingin ketemu ke kepala suku untuk silaturahim dan minta doa. Syaratnya selain biaya untuk kepala suku kami cukup membeli minyak dan kemenyan. Sebenarnya kami bingung juga soal mekanisme tersebut. Katanya bulan larangan, tapi kok bisa aja masuk ke Baduy dalam. Si calo itu meyakinkan kami juga dengan bilang baru saja mengantar rombongan lain masuk Baduy dalam beberapa jam sebelumnya. Soal beli minyak dan kemenyan juga terasa ganjil. Ah, entahlah untuk saat ini, yang penting bisa masuk ke Baduy dalam sudah sangat bagus. 
Maka, kami pun harus lapor dulu kepada lurah Ciboleger dahulu untuk izin masuk. Di buku izin, kami tentu tidak mungkin menulis “jalan-jalan” jadi aku ganti jadi: survey. Dan seperti biasa birokrasi Indonesia, harus berduit. Bersama buku tamu yang telah aku isi, diselipkan uang sepuluh ribu. Ya sekedarnya, anggap saja seperti tiket masuk.
Di awal perjalanan kami sempat terkagum dengan tanaman padi yang ditanam kering. Ternyata ada ya, spesies tumbuhan padi yang ditanam seperi ubi dan singkong saja. Ditanam tanpa aliran air seperti padi yang biasa saya lihat di banyak tempat.
Belum jauh berjalan, calo yang kini ditemani seorang teman mengajak kami untuk membicarakan soal tarif perjalanan. Ia jelaskan bahwa biaya yang harus kami keluarkan sebesar 300 ribu. Rinciannya masing-masing seratus ribu untuk jasa guide, kepala suku atau Pu’un, dan biaya menginap. Kami cukup kaget dengan harga yang dipasang oleh calo. Masalahnya adalah uang kami memang sangat terbatas apalagi setelah harus belanja kemenyan dan kebutuhan makan untuk di Baduy dalam.
Seluruh uang yang ada di kantong pun kami satukan sehingga terkumpul 220ribu. Itu pun sudah dikurangi untuk ongkos pulang sebesar 15ribu per orang sampai kota Rangkasbitung. Si calo sebenarnya cukup keberatan karena uang kami tidak sampai 300rb. Akan tetapi, daripada tidak ada sama sekali lebih baik diambil saja kan. Logika sederhana yang bisa kami simpulkan ketika dia menyetujui maksimal jumlah uang yang bisa kami berikan.
 Setelah negoisasi harga selesai, si calo yang kami kira akan jadi guide kami ke baduy dalam malah turun kembali ke terminal Ciboleger. Ternyata guide yang sebenarnya itu justru teman si calo yang baru saja ikut sesaat sebelumnya. Guide kami namanya Kang Sarid. Dari dia kami tahu bahwa si calo memang tidak pernah ke baduy dalam lagi. Faktor fisiknya yang cukup gemuk serta medan yang berbukit membuatnya tidak lagi mampu ke baduy dalam. Kebohongan pertama yang langsung terungkap.
Kecurigaan pertama

Ada hal aneh yang aku lihat soal perilaku calo. Setelah negosiasi selesai, si calo ternyata kembali ke Ciboloeger bersama dengan uang yang baru saja kami berikan. Dia tidak menitipkan uang sepeser pun kepada Kang Sarid, guide kami. Padahal, dua per tiga dari uang itu seharusnya mengalir ke kantong pemilik rumah tempat menginap kami nanti dan kepala suku. Kalau dia turun ke Ciboleger, kapan diberikan uangnya?
Anjing bergongong kafilah tetap berlalu. Petualangan baru saja akan dimulai. Biarlah kecurigaan ini menjadi bumbu perjalanan kami. Menurut penuturan kang Sarid, kami harus menempuh jarak kira-kira dua belas kilometer dengan berjalan kaki. Biasanya perjalanan itu memakan waktu empat sampai lima jam. Tepat pukul lima sore kami memulai perjalanan yang sangat nantinya sangat inspiratif.
Selama perjalanan kami dihadapkan dengan medan yang berbukit-bukit. Ditambah dengan hujan yang menjadi salah satu dinamika perjalanan. Sebenarnya Hanifah sudah bilang untuk membawa jas hujan. Tapi ya tetep tjas hujan karena tidak bawa karena memang tidak punya. Untung Salsa membawa payung dan jas hujan sekaligus. Jadi, sementara dia menggunakan jas hujannya,aku yang pakai payungnya.
Ada satu momen dalam perjalanan tersebut yang kami pikir itu adalah salah satu yang terbaik selama perjalanan. Jadi, di ujung petang kami sedang dalam posisi menaiki bukit yang cukup curam. Bagiku pribadi saat itu adalah pertama kalinya berada di satu ketinggian tertentu yang melihat dari tempat yang cukup tinggi, tanpa kerlap-kerlip lampu kota. Sejauh mata memandang hanya abu-abu dan gelap perbukitan. Kami duduk beristirahat sejenak menikmati momen yang sangat indah itu.
Sepanjang perjalanan, medan yang berbukit ditambah licin karena hujan membuat aku dan Hanifah yang memang tidak biasa naik gunung menjadi sering terpeleset. Bahkan di beberapa titik kita terpaksa ngesot saja karena medannya terlalu licin dan curam. Sedangkan salsa begitu tangguh berjalan tanpa sekalipun terpeleset. Ya wajarlah, jam terbang menentukan kemampuan. Masa iya anak gunung masih sering jatuh terpeleset.
Kami terus berjalan di tengah terpaan angin yang dingin dan rintik hujan yang tak kunjung berhenti. Diisi dengan diskusi hangat khas anak sosial yang sangat hidup. Saat itu topik hangatnya masih soal PKI. Masih hangat-hangat materinya pascadiskusi di Goethe Institut. Sayang Hanifah diam saja menyimak aku dan salsa berbicara. Wajar sih, anak kluster kesehatan  jadi tidak terlalu nyambung ngobrol soal sosial.
Kami berjalan tanpa tahu kapan perjalanan berakhir. Hanya saja kami tidak ingin membicarakan soal jarak perjalanan. Sudah tiga setengah jam perjalanan kami dan sudah satu setengah jam kami berjalan dalam gelap. Beberapa kami dilewati oleh beberapa warga asli baduy yang berjalan tanpa penerangan. Kalaupun ada hanya mereka hanya berbekal satu buah lilin. Hal yang sangat ajaib menurut kami mengingat kegelapan hutan. Dengan menggunakan dua senter yang cukup terang saja rasanya masih sulit, apalagi hanya dengan lilin.
 Akhirnya kira-kira pukul setengah sembilan malam akhirnya kami sampai di perkampungan Baduy dalam. Haha, akhirnya perjalanan ini pun berakhir.Keadaan kampung begitu hening dan gelap. Tidak ada suara dan cahaya yang menerangi jalan. Aku seperti terlempar ke tiga abad yang lalu di mana manusia hidup tanpa listrik.  Semua rumah pun dibangun secara tradisional dengan menggunakan bambu dan kayu. Jalan setapak dibuat dari batu kali yang dihamparkan begitu saja. Ya mirip-mirip dengan kita lah jalan dibangun khusus dengan aspal.
Kami tidak bisa berlama-lama berada di luar karena Kang Sarid juga sudah memasuki salah satu rumah. Kami satu-satu masuk dan bersyukur akhirnya bisa duduk dan melempengkan kaki lagi. Hueeeh, kaki ini rasanya mau copot saja. Jujur secara pribadi perjalanan ini sangat berat. Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Rumah itu hanya diterangi dengan sebuah lilin yang ditaruh agak tinggi agar menyebarkan cahaya lebih merata ke seluruh ruangan. Rumahnya sangat kosong melompong tanpa ada furniture. Ada tumpukan karpet di salah sudut ruangan. Di dalam rumah tersebut ada satu kamar khusus yang kami perkirakan sebagai ruang privat tuan rumah yang menyatu dengan dapur dan tempat menumpuk perabotan dapur.
Saat memasuki rumah tersebut kami mendapati tiga orang berada di dalam rumah. Salah satunya seorang ibu yang menghamparkan banyak bungkusan makanan di depannya. Ternyata apa yang terhampar di depannya adalah barang jualan. Oh ternyata kalau soal makanan, orang Baduy dalam mau menerima.
Di rumah kami berkenalan dengan pemilik rumah dan ngobrol-ngobrol. Namanya sudah lupa sih. Untunglah sedikit-sedikit aku bisa bahasa Sunda. Jadi ya lumayan nyambung lah. Setidaknya bisa jadi jembatan antara Hanifah-Salsa dengan tuan rumah. Sebelum makan, kang Sarid mempersilahkan kami ganti baju di salah pojokkan kamar yang ditutup dengan karpet yang digantung.
Sembari menunggu makanan siap, kami meminta izin untuk solat kepada tuan rumah. Awalnya kami bingung di mana tempat untuk berwudhu. Karena tentu saja tidak ada keran dan kamar mandi di rumah itu. Akan tetapi, kemudian kang Sarid menunjukkan beberapa batang bambu yang ternyata digunakan sebagai tempat menampung persediaan air. Dari air itulah kami gantian berwudhu kemudian solat Maghrib dan Isya. Tidak menunggu terlalu lama, makanan yang kami bawa akhirnya selesai dimasak oleh ibu tuan rumah. Hidangannya hanya biasa saja; nasi dan mie rebus. Faktanya terasa lebih istimewa karena perjalanan dan kelelahan setelah berjalan begitu jauh.
Awalnya kami bingung karena tidak ada sendok yang umumnya digunakan untuk makan mie rebus. Salsa bahkan sudah memulai lebih dahulu acara makannya tanpa ribet soal sendok. Akan tetapi, ternyata tuan rumah hanya telat menyediakan sendok kepada kami. Untunglah kami tidak jadi harus makan mie rebus dengan tangan kosong. Ada senyum simpul yang bisa aku dan hanifah berikan kepada Salsa ‘keburu’ mulai makan.
Setelah makan dan melanjutkan obrolan soal budaya dan nilai yang dianut oleh Suku Baduy, kami dipersilahkan tidur. Ya karena memang space nya tidak ada sekat sama sekali, antara Salsa-Hanifah dengan aku dan kang Sarid hanya dibatasi dengan sepotong kayu. Tentu saja tidak samping-sampingan, perbatasannya ada di antara kepala-kepala kami. Keadaan darurat.
Hujan masih terdengar rintik di luar dan ketika sudah rebahan tiba-tiba alergi dingin yang sejak tadi terpending selama perjalanan akhirnya keluar juga dengan bersin. Pasti karena faktor kehujanan tadi. Aku mencoba minum air panas yang disediakan tuan rumah. Jaket dan sarungku basah sehingga mustahil digunakan sembari tidur. Untunglah Hanifah bawa pakaian cukup banyak. Aku dipinjamkan salah satu jaket dan sarungnya menggantikan milikku yang basah itu. Plus ada minyak kayu putih untuk menghangatkan perut. Walaupun efeknya sangat buruk: sebotol minyak kayu putih itu kemudian malah hilang setelah aku gunakan.
Subuh-subuh kami dibangunkan dengan dering alarm dari handphone-ku dan Hanifah. Hape zaman sekarang walau sudah dimatikan tetap otomatis nyala fitur alarmnya. Mencoba berdamai dengan dingin yang menusuk dan mengambil air wudhu. Karena Kang Sarid masih tertidur, kali ini Salsa yang menyiramkan air untuk aku berwudhu untukku. Untuk shalat subuh ini, aku berusaha agar suaranya dibuat minimal tapi tetap terdengar ke dua akhwat di belakang itu. Maklumlah, kalau terlalu kencang rasanya sangat tidak etis karena mereka kan memang tidak shalat dan masih tertidur.
Setelah shalat, kami bingung sebenarnya mau ngapain. Tidak ada hal spesifik yang bisa dikerjakan. Mau tilawah penerangannya pun tidak memadai. Jadi lah kami beringsut ke luar dan memandang bintang di langit. Entah apa penjelasan ilmiahnya, hanya saja langit kala malam hingga subuh di dataran tinggi selalu bertaburan bintang. Bercengkrama sambil mengobrol ringan menjadi pembunuh waktu paling efektif yang bisa kami lakukan. Hingga akhirnya hari mulai terang, penghuni rumah satu per satu pergi ke sungai untuk mandi. Ada juga beberapa bocah yang melewati kami sembari membawa peralatan tani. Siklus regenerasi tani yang masih berjalan.
Pukul tujuh kang Sarid meminta kami bersiap untuk menemui sang raja suku Baduy, Pu’un. Menemui Pu’un adalah salah satu prosedur penting yang harus kami lakukan mengingat kami memasuk wilayah Baduy di bulan Kawalu. Alasannya adalah jika bukan untuk memenuhi keperluan yang sangat penting dengan cara ‘minta’ doa kepada Pu’un sulit untuk masuk. Ya kami karang saja lah mau apa kek itu nggak penting. Karena kami sadar bahwa ini kan masalah aqidah.
kami harus menemui Pu’un di rumah ladangnya yang terletak sedikit memisah dari perkampungan. Masih harus naik bukit dulu. Ya anggap saja pemanasan untuk jalan pulang. Pu’un yang kami temui ternyata tampangnya biasa saja. Secara pribadi ya dia memang sedikit, asli sedikit doank, terlihat kharismanya sebagai seorang raja atau kepala suku. Di awal perbincangan dia basa-basi menanyakan nama-nama kami.
Lalu kami pun memasuki acara inti. Bertiga plus kang Sarid, kami memasuki rumah ladangnya. Setelah duduk melingkar, Pu’un menanyakan maksud dan tujuan kami datang. Kang Sarid berperan sebagai juru bicara menyatakan kami datang untuk silaturahim dan meminta jampi-jampi agar nilai-nilai kuliah pada bagus. Yes, whatever lah we don’t care.
Prosesi pun dimulai, menyan dan minyak yang kami beli di Baduy luar diberikan kepada Pu’un. Selanjutnya mirip-mirip lah dengan adegan mbah dukun yang biasa kita tonton di televisi atau bioskop. Aku hanya menunggu dan termenung dengan pikiran melayang-layang soal pulang daripada nungguin Pu’un komat-kamit kelamaan. Akhirnya prosesi panjang itu diakhiri dengan tiupan Pu’un ke tangan-tangan kami. Dia mengembalikan minyak dan menyan untuk dibawa pulang. Pesannya kepada kami “kalau mau pergi, menyannya dibakar dulu di kamar. Terus minyaknya diolesin ke bawah mata dan pakaian.” Kami menganggukkan kepala sembari menerima minyak dan menyan itu.
Sebelum keluar Pu’un kembali berpesan, “Nanti setelah keluar rumah tahan nafas tiga langkah dan ga boleh nengok sepanjang tujuh langkah.” Kami hanya diam dan pastinya tidak melakukan menahan nafas sesuai perintah Pu’un. Hanya saja kami tidak menengok karena harus menghormati Pu’un. Kalau nafas kan enggak bakal kelihatan. :p
Kami kemudian kembali ke rumah dan menyantap sarapan yang telah disediakan. Menunya masih sama, mie rebus dan nasi. Hanya saja kali  ini ada tambahan telor asin yang Hanifah beli di terminal Aweh. Usai makan kami segera berkemas karena harus segera keluar dari kampung. Bulan Kawalu membuat kedatangan kami tidak bisa diketahui banyak orang.
Di awal perjalanan kami dijanjikan oleh kang Sarid akan melewati jembatan bambu yang legendaris. Soal medan jalan pulang, topografinya sangat mirip dengan saat keberangkatan kemarin. Tetap berbukit-bukit terjal. Untungnya kali ini tidak terlalu licin seperti kemarin karena memang tidak sedang hujan. Uniknya justru pada saat itu lah Salsa malah terpeleset. Sekali-kalinya dia bisa terpeleset begitu selama perjalanan. Sayang tidak terlalu becek, jadi roknya tidak kotor seperti yang Hanifah dan celanaku alami kemarin.
Di jalan, beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang Baduy baik yang sudah dewasa maupun anak-anak. Saya membayangkan anak-anak balita hingga sepuluh tahun sudah harus beradaptasi dengan topografi wilayah yang menurutku cukup berbahaya dan mengerikan.
 Setelah menuruni salah satu bukit yang sangat terjal dan terbuka kami pun sampai di salah satu jembatan bambu terbesar yang suku Baduy miliki. Entah sudah berapa tahun umur jembatan ini karena di beberapa bagian ada yang sudah lapuk. Walaupun secara keseluruhan, jembatan itu terlihat masih sangat kokoh.


Dan karena view sungainya begitu bagus. Kami tidak sabar untuk tidak melakukas sesi pemotretan di tempat ini. Masa sih, sudah jalan jauh-jauh ga ada foto-fotonya sama sekali. Air sungai yang sangat jernih membuat kami tergoda untuk turun. Kalau tidak sekarang, kapan lagi bukan? Haha.
Kang Sarid berubah profesi sejenak menjadi tukang foto amatir untuk untuk kami bertiga. Sayang tidak ada foto yang memotret jembatan dari bawah. Betul-betul terlupa! Sayang sekali karena entah kapan lagi bisa menyempatkan diri ke baduy.


Perjalanan masih cukup jauh sebenarnya. Kami melewati beberapa perkampungan Baduy luar. Di sana peraturan adat sudah tidak terlalu ketat. Salah satu pekerjaan utama penduduk sana adalah menenun. Kegiatan ekonomi yang telah menghidupi penduduk Baduy luar selama bertahun-tahun. Di Baduy luar kami mendapati penduduk tidak berpakaian warna hitam dan putih saja. Kata kang Sarid untuk baduy luar sudah bebas menggunakan warna apa saja. Tidak seperti di baduy dalam yang hanya boleh menggunakan berpakaian hitam dan putih.
Lelah. Itulah perasaan terbaik aku di setengah perjalanan pulang. Treknya yang lebih panjang dan siang hari membuat perjalanan kali ini menjadi lebih melelahkan daripada kemarin. Akan tetapi, ya jujur saja aku tidak mungkin menye-menye minta istirahat terus. Selain karena memang sedang mengejar angkutan terakhir, juga karena aku Cuma cowok sendirian maka gengsi gan! Hueeh, mau ditaroh ke mana muka gw melas-melas minta istirahat ke cewek gunung yang entah sudah berkali-kali sampe puncak gunung. Oke, teori gengsi, atau lebih kita kenal aktualisasi diri sedang berjalan. Jadi, semangat!
Sampai jam setengah dua belas kami masih tidak tahu kapan akan sampai di Ciboleger. Lagi-lagi tidak ada yang ingin menyinggung soal jarak atau waktu akan sampai di ujung perjalanan. Berbicara soal itu hanya akan membuat perjalanan semakin berat. Tapi perjalanan akhirnya berakhir ketika kang Sarid tiba-tiba menghilang. Kami kehilangan jejak untuk melanjutkan perjalanan. Mencoba berjalan berbekal petunjuk arah dari seorang anak kecil yang katanya dari Cibologer. Dan akhirnya di balik sebuah rumah, jaraknya terlihat cukup dekat, terlihat gedung SD dan patung angklung. Tanda kami sudah sampai di Ciboleger. Alhamdulillah. 
Di Ciboleger, kami sempatkan untuk foto-foto di depan pintu gerbang baduy pesanan ibu salsa. Setelah itu, dua ibu-ibu yang sudah ngebet mandi itu meminjam kamar mandi di salah warung makan. Kalau aku bukannya ga mau tapi memang ga ada persiapan sama sekali untuk mandi. Jadi ya sudahlah istirahat aja, mandi pun belum tentu ada yang terpesona lah.
Satu lagi penipuan
Selagi istirahat itu kang Sarid memberi tahu aku bahwa harus lapor dulu ke sopir angkot yang akan membawa kami ke kota Rangkasbitung. Ya sudah, laporlah aku bahwa kami akan berangkat hanya dengan tiga orang. Beres. Kemudian tidur-tiduran lagi, istirahat. Akan tetapi, kang Sarid datang lagi memberitahukan kalau angkotnya tidak mau berangkat hanya dengan tiga orang penumpang. Rugi solarnya dia bilang.untuk itu saja sudah habis 70rb rupiah sekali jalan. Kalau hanya bertiga enggak bakal balik modal. Jadi kita harus carter tuh mobil 200rb sampe Rangkasbitung. Nanti pun kalaupun ada penumpang 1-2 orang ya gpapa lah masuk aja. Begitu katanya. 
DOH!
Ini aku udah mau pulang tiba2 ada masalah lagi.  Apa-apaan pula duit tinggal 45ribu buat pulang bertiga malah dipalakin 200 rebet. Ini udah ga beres bawaannya. Aku udah yakin ini semua hanya skandal yang dibuat oleh si SARID sama SOPIR itu. Tapi tenang dulu, kami masih di kandang orang. Salah-salah malah kami yang dikeroyok dan ga bisa pulang lagi. Salsa dan Hanifah akhirnya selesai mandi dan aku utarakan apa yang tadi sudah dibicarakan ama SARID.
Kami putuskan untuk memulai negosiasi sekali lagi. Tidak mungkin kami menyerah begitu saja dengan keadaan yang sedang di-setting oleh SARID dan SOPIR itu. Huh! Setidaknya kami berhasil menurunkan harganya sedikit jadi 150rb. Kami mengkalkulasi kemungkinan lain untuk pulang. Pinjam motor ga mungkin, ojek ga ada, jalan kaki? Mungkin sih, tapi kami masih sangat lelah setelah perjalanan sebelumnya. Secara mental dan fisik kami sangat tidak siap. Dengan mobil saja ke Rangkasbitung butuh waktu 1-2 jam. Apalagi jalan kaki???
Oke, akhirnya kami deal dengan perjanjian, “kami MENCARTER mobil seharga 150ribu, kalaupun ada penumpang di tengah jalan boleh masuk 1-2 ORANG SAJA.”
Sialnya deal tinggal deal. Tidak ada 10 menit mobil CARTERAN kami berjalan, tiba-tiba ada banyak penumpang masuk hingga mobil menjadi setengah penuh. Wow! Ini SOPIR sableng apa dodol sih. Oke, baguslah. Ini celah penting melakukan renegosiasi soal tarif CARTER itu. selama perjalanan kami mencatat setidaknya ada empat belas orang turun naik mobil CARTERAN. Sebenarnya apa sih definisi CARTERAN? Ini kan sama ja seperti kita naik taxi. Bayar untuk semobil dan tidak boleh ada penumpang lain masuk. Tapi apa-apaan ini???
Yah kami putuskan untuk melakukan renegosiasi di terminal Aweh nanti. Pastinya mobil ini akan berhenti di sana. Perjalanan masih sangat jauh. Aku kembali tertidur. Walau harus kerap kali terbentur besi jendela dan ditertawai dari belakang. Akan tetapi, kami terkecoh dan tiba-tiba si SOPIR bertanya mau ke ATM mana untuk mengambil uang. Gut! Ini kurang ajar sekali sekonyong-konyong nanya ATM. Huh, kami putuskan untuk  segera turun tidak jauh dari salah satu bank milik pemerintah.
Nih aku kutip aja tulisan si salsa karena ga ikut perdebatan dengan SOPIR secara lengkap,

Sampai di Rangkasbitung, sopir menurunkan kami di depan ATM BRI. Bukannya bergegas mengambil uang, kami justru meminta sopir turun. Dewan mengawali negosiasi ulang dengan bahasa Sunda. Karena gatal tidak sabar, saya menimpali, dalam bahasa Indonesia tentu saja. Intinya, kami bersikeras tidak mau bayar Rp 150.000,00 dan ingin bayar dengan tarif normal, karena ternyata si sopir melanggar perjanjian. Kalau penumpang penuh seperti ini sih, bukan carter mobil hitungannya, tapi penumpang biasa. Sopir berkata, memang biasanya seperti itu. What?! Jadi dia memang sudah biasa melakukan modus penipuan seperti ini?! Situasi semakin memanas. Dewan beringsut mundur mengambil uang. Tinggallah saya berdebat dengan sopir elf, di depan penumpang lain yang menatap ingin tahu. Pada saat penumpang lain sepertinya mulai berpihak pada kami, sopir mengatakan sesuatu pada mereka, dalam bahasa Sunda. Para penumpang itu mengangguk-angguk mendengarkan perkataan sang sopir, dan saya jadi geregetan sendiri. Oh God, saya nggak ngerti dia ngomong apaa!! Di tengah suasana seperti itu, Dewan kembali dari ATM. Sopir yang melihat keadaan mulai tidak menguntungkan dirinya akhirnya mengambil jalan tengah.

“Ya udah, bayar seratus ribu aja!” tukas sang sopir keras. Akhirnya, sambil menggemeretakkan gigi, saya mengambil uang dari tangan Dewan dan menyerahkannya pada si sopir.

“Oke, kami bayar seratus ribu. Tapi perlu diingat, perjanjian awal kami adalah kami carter mobil seratus lima puluh ribu, dan sopir bisa menaikkan 2-3 penumpang lain. 2-3 orang, bukan penuh seperti ini,” desis saya perlahan, penuh tekanan. “Ayo pergi!”

Well, kira-kira begitulah episode melawan mafia pariwisata yang kami alami. Terakhir sebelum pulang dengan kereta api, atas permintaan Hanifah kami menyempatkan diri untuk makan dulu di salah satu warung soto depan alun-alun. Mengingatkan aku dan Salsa yang hilang rasa laparnya karena adu bacot tadi.
Setelah perjalanan tiga jam menggunakan kereta kami sampai di stasiun kota. Di sana kami berpisah jalan karena aku harus menuju bogor. Sedangkan Salsa dan Hanifah menuju Bekasi dan Kalimalang. Sembari menunggu kereta ekonomi ac datang di rel 11, aku membuang minyak yang telah didoakan Pu’un yang katanya akan memberikan kami IPK bagus ke rel. Biar riwayat minyak itu berakhir seiring dengan usainya cerita perjalanan ini. []
Sunday, 6th of march 2011, 15:49 p.m

Wednesday, 9 March 2011

social media and our life

Sedikit poin yang didapatkan dari seminar media matters, PEKOM UI 2011

Mbak Dian Noeh Abu Bakar, Senior Vice President, Weber Shandwick / Indonesia.

Saat ini kita berada dalam zaman new media yang sangat dinamis dibanding dengan conventional media. Perbedaan paling kentara di soal flat society yang sama-sama kita rasakan saat ini. Bersama new media kita tanpa sadar memiliki akses langsung ke banyak orang-orang yang secara logika old media tidak akan atau minimal sulit terjangkau. Dengan menggunakan twitter, khususnya, kita bisa saja follow orang-orang terkenal sesuka hati kita. Dunia yang seakan-akan vertikal terhadap orang-orang di pemerintahan atau idola kita, menjadi flat tanpa hambatan.

Ya, karena itu juga kita mudah sekali memengaruhi atau dipengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu. Memang ada teori kampanye sosial atau apalah. Akan tetapi, minimal, channelnya sudah tersedia. New media kini telah melahirkan: online shape offline. Koin untuk prita dalam skala nasional dan gelombang demokratisasi di timur tengah dalam skala internasional adalah bukti konkret adanya pengaruh new media ke dalam kehidupan riil manusia.

Bahkan kini, hanya dengan twitter seseorang yang menjadi public figure, wartawan bisa saja mengambil twit-nya menjadi beberapa paragraf berita. Benarkah? Itu fakta. Ada dua kasus yang saya ketahui. Pertama yang diulas oleh mbah diah, setelah timnas Indonesia kalah tandang 3-0 oleh malaysia Irfan Bachdim menulis di twitternya, “Ih, sebel deh kalah,” (kira-kira begitu). Hanya dengan twit sederhana itu seorang juru berita berhasil membuat tiga paragraf berita. Kasus kedua dari peristiwa Angelina Sondakh yang beberapa waktu lalu baru saja kehilangan suaminya. Sekitar tujuh hari setelah wafat, enji, panggilan akrab beliau, menulis di akun twitternya, “aku masih belum bisa ikhlas atas kepergian Mas Adjie.” (intinya begitulah). Hanya dari itu, beberapa acara infotainment dansi tus berita detik, kalau ga salah, membuat berita soal kesedihan si Angelina Sondakh.

Kalau dulu wartawan mendapat berita hanya dari press release dan sesi tanya jawab yang disediakan. Karena komunikasi media konvensional cenderung satu arah. Akan tetapi, saat ini wartawan bisa menjaring informasi dari semua arah untuk memproduksi sebuah berita. Wartawan akan menjaring berita dari semua arah yang bisa ia capai. Dari blog orang, dari obrolan di twitter, press release, dan lain-lain.

New media saat ini tidak hanya menjadikan rintangan komunikasi kita menjadi flat, tetapi juga men-trigger pola komunikasi masyarakat kita menjadi bersifat partisipatori. Budaya komunikasi dua arah kini mulai menjadi budaya dan memang dengan itulah kita membangun komunikasi kita. Komunikasi dua arah itu pula yang membuat speed informasi menjadi sangat luar biasa cepat. Kita mulai tidak terbiasa dengan kedalaman berita. Karena dengan twitter, kita umumnya hanya tahu deadline berita saja.

Di zaman new media ini, banyak dari kita yang menjalankan profesi, sadar atau tidak, sebagai citizen journalism. Arus informasi yang begitu deras dari masyarakat akar rumput membuat tingkat kepercayaan kita terhadap banyak orang, bahkan yang kita tidak kenal, menjadi tinggi. Saya teringat ketika mal ambarukmo plaza terbakar sekitar 1-2 bulan yang lalu. Informasi pertama datang bukan dari portal berita atau televisi, melainkan informasi datang dari twitter dengan hashtag #infojogja. Jepret dikit langsung di-share ke twitter. Semua orang pun tahu kalau terjadi kebakaran di sana. So that’s is our world now. Because, You Are The Media. 

Wednesday, 2 February 2011

Ku saksikan tubuh kecil yang letih di pinggiran jalan
Hanya beralaskan lembar koran
Berselimutkan malam

Anak jalanan. Fenomena universal yang terjadi di seluruh dunia. Mereka sebuah fenomena yg muncul bersama dengan berkembangnya kota besar di seluruh dunia. Mereka berada di perempatan jalan, angkot, bis kota, terminal, stasiun, kereta ekonomi, dan di ruang publik lain. Tempat-tempat tersebut adalah ‘lahan’ mencari uang paling strategis. Minimal hanya dengan modal sedikit kecrekan, gitar akustik mini, atau bahkan hanya dengan modal suara mereka bisa ngamen. 
Pengamen mungkin pekerjaan paling umum digeluti oleh anak jalanan. Beberapa pekerjaan seperti loper koran dan tukang semir sepatu juga biasa mereka geluti. Pekerjaan yang mungkin tidak satu pun dari kita pernah coba lakukan menjadi penjamin urusan perut anak jalanan.
Saat ini keberadaan anak jalanan menjadi hal yang lumrah di mata kita. Seperti layaknya kesalahan yang dikatakan berkali-kali menjadi sebuah kebenaran. Maka semakin sering kita melihat anak jalanan, setiap pekan, setiap hari, dan bahkan setiap kita keluar rumah, mata kita semakin akrab dengan anak jalanan. Otak kita kemudian memproses bahwa anak jalanan tidak lagi menjadi masalah, tetapi sesuatu yang normal.
Ada faktor umum dan pendorong fenomena anak jalanan. Faktor penyebab munculnya anak jalanan yang paling umum terjadi adalah masalah uang. Jika memakai angka pendapatan per kapita 2 dollar AS per hari sesuai dengan standar kemiskinan versi Bank Dunia, di Indonesia terdapat 100 juta orang miskin. Angka yang sangat menjelaskan kenapa kita bisa menemukan anak jalanan di mana-mana. Faktor pendorongnya yaitu keinginan anak itu sendiri, karena prihatin terhadap kondisi kehidupan orang tua dan keluarganya. Atau mungkin juga karena ingin mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Pada dasarnya siapa pun orang tua, nuraninya tidak akan sampai hati membiarkan anak-anak mereka ikut mencari makan. Akan tetapi, sebagai kaum papa yang tidak berdaya, mereka harus berdamai dengan keadaan yang menghimpit. Maka bertebaran lah anak-anak itu di sekitaran di jalan, stasiun,dan terminal.
Di jalan, Salah satu kelompok anak jalanan yang spesifik adalah anak punk. Mereka kita bisa kenali dengan dandanannya yang khas. Cat rambut warna-warni, celana pensil, kaos hitam, dan lain sebagainya. Member anak punk ini biasa datang dari keluarga broken home atau remaja yg mencari kebebasan dari sekolah dan lingkungannya. Komunitas tersebut terbentuk oleh adanya kesamaan nasib dan kesamaan jenis musik yang mereka sukai.
Jumlah anak jalanan faktanya terus bertambah tiap tahun. Jumlah anak Indonesia (0-18 tahun) menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2006 mencapai 79,8 juta anak. Mereka yang masuk kategori telantar dan hampir telantar mencapai 17,6 juta atau 22,14 persen. Menurut Komisi Perlindungan Anak, hampir separuhnya berada di Jakarta. Sisanya tersebar ke kota-kota besar lainnya seperti Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja ,Surabaya, Malang dan Makasar. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup dan masa depan anak-anak sangat memperihatinkan, padahal mereka adalah aset, investasi SDM dan sekaligus tumpuan masa depan bangsa.
Untung saja pemerintah memiliki fasilitas sekolah gratis. Maka setidaknya anak-anak jalanan itu masih bisa merasakan bangku sekolah. Walaupun belum tentu mereka memang senang bersekolah. Dalam banyak kasus, bocah-bocah jalanan memang lebih senang berada di jalan daripada mengikuti proses kegiatan belajar mengajar formal. Karena jalanan memang menawarkan kebebasan dan uang instan untuk jaminan makan mereka hari. Berbeda dengan sekolah yang tidak menawarkan uang untuk makan, tawaran berupa masa depan terlihat begitu bias di mata mereka. Bagaimana mungkin memikirkan masa depan jika untuk makan hari ini saja masih harus ngamen?
Insting manusia untuk hidup berkelompok juga berlaku untuk anak jalanan. Biasanya mereka memilki kelompok kecil beranggotakan tiga sampai sepuluh orang. Setiap anggota memiliki persaudaraan yang sangat kuat antar sesamanya. Ada rasa untuk saling mengisi dan melengkapi diantara mereka. Dengan anggota kelompok juga anak jalanan akan saling berbagi pendapatan harian. Usai kerja seluruh anggota kelompok akan berkumpul dan menghitung total uang yang didapat. Total uang tersebut kemudian dibagi rata sejumlah anggota kelompok. Sebuah persaudaraan yang indah dan nasib telah menyatukan mereka.
Kelompok itu membantu anak jalanan untuk bertahan hidup. Karena layaknya berdagang tidak setiap hari mendapat untung. Roda nasib berputar terkadang dapat banyak terkadang tidak. Seorang pengamen yang ditemui di stasiun Lempuyangan bercerita bahwa dia bisa pulang dengan dua puluh ribu sehari. Itu hasil yang ia dapat setelah digabung dan dibagi teman sekelompoknya. Padahal hasil mengamennya seharian jarang sekali mendapat uang sebesar itu.
Menjadi pengamen mungkin bukan sebuah pilihan bagi mereka. Tuntutan hidup untuk mengisi perut dengan makanan yang layak menjadi motivasi utama. Perkara kehidupan jalanan membuatnya nyaman atau tidak tentu bergantung kepada kondisi setiap individu. Walaupun katanya anak-anak jalanan itu menjadi tanggungan pemerintah di dalam undang-undang. Faktanya adalah itu semua hanya ideologi yang tertulis. Kini tanggung jawab itu bukan lagi milik pemerintah, tetapi tanggungan kita semua.  

 Referensi tambahan

Menghimpun Sepotong Sejarah Gedung Agung Yogyakarta

Luasnya wilayah Indonesia membuat pemerintah Hindia Belanda harus membuat struktur hierarkis di daerah. Kantor perwakilan di setiap daerah kemudian menjadi suatu kebutuhan sentral. Maka dibagilah daerah-daerah menjadi banyak residen. Sebuah corak birokrasi yang secara tidak langsung memberikan wawasan tentang birokrasi modern kepada bangsa Indonesia.
Pada saat pemerintahan Daendels dan Raffles, corak birokrasi dibuat sangat liberal seperti yang dilakukan di negara asal mereka berdua. Akan tetapi, semua berubah setelah Belanda kembali memegang tampuk penjajahan setelah serah terima wilayah jajahan di Konferensi London. Corak birokrasi Indonesia didesain kembali bersifat feodal. Belanda mengerti betul bahwa masyarakat Indonesia belum cocok dengan hal yang terlalu modern. Sehingga sifat dan watak feodalisme orang Indonesia menjadi bagian birokrasi yang dibangun Belanda sejak tahun 1816.
Salah satu dari kebutuhan birokrasi adalah kantor pemerintahan yang permanen. Kebutuhan ini terasa sangat mendesak seiring dengan bertambahnya tahun. Gedung yang akan dibangun nanti tidak sekedar untuk menjadi kantor karasidenan. Gedung yang akan dibangun juga ingin dibuat untuk memamerkan kemewahan. Memberikan sugesti hegemoni kepada masyarakat luas bahwa kekuasaan Belanda itu sangat hebat.
Maka pada tahun 1823 Residen Yogyakarta kedepalapan belas, Anthonie Hendrik Smissaert mengusulkan untuk membangun gedung tersebut. Maka kemudian ditunjuklah seorang pelukis lanskap, Antoine Payen, untuk mengepalai pembangunan gedung megah milik Karasidenan Yogyakarta. Dia mendesain gedung itu dengan gaya eropa yang menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Gaya eropa yang dibangun di Gedung Agung sangat terlihat dari bentuk pintu dan jendelanya yang tinggi dan besar.  
Akan tetapi, pembangunan kantor sekaligus kediaman Residen Yogyakarta usulan Residen Anthonie Hendrik Smissaert harus dihentikan untuk sementara waktu. Hal ini dikarenakan Pangeran Dipenogoro mengumumkan perang melawan pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1925. Padahal pembangunan kantor karasidenan itu baru dimulai setahun sebelumnya.
 Sang Arsitek
Antoine Prancis adalah seorang pemuda kelahiran Prancis tahun 1792. Ia pertama kali menginjakkan kakinya di Hindia Belanda tepatnya di tanah jawa pada tahun 1816. Kedatangannya bersama para juru gambar Bik Bersaudara, Jan Bik dan Theodore Bik.
Antoine Payen dikirim oleh pemerintahan Belanda untuk menjadi pelukis lanskap di Hindia Belanda. Pengalamannya tentang seni lukis cukup diakui pemerintah. Riwayat pendidikannya sangat bagus dan membuat Belanda mau membiayai Antoine Payen berangkat.
Sebelum pergi ke Hindia Belanda, Antoine Payen yang berbakat, serba bisa, dan adaptif ini sudah lebih dahulu mempelajari teknik dasar seni lukis di Belgia. Ia sempat belajar di Academy of Drawing, Belgia, yang ketika itu dipimpin oleh Piat Jospeh Sauvage, seorang pelukis yang sebelumnya sempat belajar di Academic Royal de Paris serta sempat pula bergabung dengan gerakan massa dalam Revolusi Prancis. (http://bit.ly/f0q9po /perjalanan/112-payen.html diakses pada tanggal 4/1/2010 pukul 23.37)
Di hindia Belanda, Antoine Payen dikenal ramah dan simpatik. Ia memperoleh posisi dan status sosial yang sangat baik di Hindia Belanda. Status sosial yang ia dapatkan didukung tergabungnya Antoine Payen dengan kolompok kecil orang-orang terpelajar yang berada di lingkaran terdekat Gubernur Jenderal Van der Capellen. Hak istimewa yang dimiliki oleh Antoine Payen membuat dirinya bisa berkunjung ke beberapa tempat di Nusantara yang terletak cukup jauh dari pulau Jawa. Bersama dengan Gubernur Jenderal Van der Capellen, ia mengunjungi Maluku dan Sulawesi.
Saat berkunjung ke Maluku itulah ia melukis lanskap pelabuhan Ternate. Adi karyanya itu terpampang manis sebagai sampul buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynmann. Hasil lukisannya sangat bagus dan menjadi pembuktian bahwa Belanda tidak salah kirim seorang pelukis lanskap.
Lukisan Antoine Payen lanskap pelabuhan Ternate
Sumber: http://bit.ly/frCSPi

Kepergian Antonine Payen menuju Hindia Belanda, memang memberikannya banyak pengalaman berharga. Pergi jauh merantau ke tempat lain tentu memberikannya kehidupan yang sangat berbeda dengan kampung halamannya. Eksotisme nusantara membuat dirinya tersihir dan kerasan tinggal di Hindia Belanda.
Akan tetapi, Antoine Payen pun akhirnya harus pulang ke Eropa. Setelah satu dekade meninggalkan tunangannya, Antoine Payen pulang untuk memenuhi janji untuk menikahi wanita tersebut. Dua tahun setelah merancang istana agung Jogja, pada 1926 tepatnya, ia pulang ke Eropa. Malangnya, sebelas bulan pasca pernikahan, istrinya Pauline menemui ajalnya sebelas bulan pasca ia melahirkan seorang anak untuk Antoine Payen.
Loji kebon
Pada zaman Belanda, Gedung Agung bernama Loji Kebon. Sebutan itu adalah sebuah potret keadaan Gedung Agung saat itu. Disebut demikian karena dahulu Gedung Agung memiliki halaman yang sangat luas. Tidak hanya luas, halaman Gedung Agung pun juga teratur dan indah, sehingga rasanya tepat sekali jika disebut Loji Kebon.
Setelah masa Perang Jawa berakhir, para residen kemudian menempati Loji Kebon pada tahun 1832. Mereka memindahkan kantor karasidenan dari sebelumnya di Loji Bulu.  Akan tetapi, sebenarnya Loji Kebon belum sepenuhnya rampung. Beberapa bagian masih dalam tahap pembangunan hingga akhirnya selesai pada tahun 1869. 
    
  Gedung Agung   
Sumber: http://bit.ly/gEr78d

Pada tanggal 1867, pembangunan Gedung Agung kembali terhambat. Hal itu dikarenakan gempa bumi yang terjadi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa bumi tersebut berdampak pada runtuhnya beberapa bangunan Loji Kebon. Maka sebenarnya bangunan Loji yang rampung pada tahun 1869 sejatinya adalah bangunan yang sama sekali berbeda dengan yang dibangun pada tahu 1824.
Keberadaan Loji Kebon dan Benteng Vredeburg memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Benteng Vredeburg adalah simbol kontrol terhadap pemerintahan keraton Yogyakarta. Sedangkan Loji Kebon adalah simbol pemerintahan Hindia Belanda. Pengakuan Belanda terhadap eksistensi keraton diimbangi dengan campur tangannya dalam tata pemerintahan. Penempatan Loji Kebon dan Benteng Vredeburg juga sengaja berada tidak jauh dari komplek keraton. Hal itu agar pihak keraton mudah diawasi dari kedua gedung Belanda tersebut.
Ricklefs juga menyebutkan dalam disertasinya berkaitan dengan Kesultanan Yogyakarta kalau Sultan Hamengkubuwono tak bisa leluasa bertindak. Bahkan termasuk keharusan meminta izin lebih dahulu jika hendak keluar dari Kutaraja. Pembangunan Vrerdeburg dan Gedung Agung itu direspons oleh pihak keraton dengan menanam banyak pohon asem di sekitar alun-alun utara agar ‘sedikit’ terhalang.
Pada tahun 1912, Loji Kebon dipandang memiliki lahan yang kelewat luas. Sehingga ada inisiatif dari pemerintahan Hindia Belanda untuk mengurangi sedikit lahan Loji Kebon untuk keperluan lain. Hal ini dikarenakan pekarangan Loji Kebon terlalu menjorok ke sebelah utara. Lahan di sebelah utara pun kemudian dialihfungsikan menjadi sekolah bagi gadis eropa. Sekolah gadis itu kemudian dinamakan, Iste Europeesche lagere meisjes school. Walaupun pada akhirnya sekolah untuk gadis eropa tersebut tidak bertahan lama dan ditutup pada tahun 1930.
Setelah sekolah gadis eropa dinonaktfkan, bekas gedungnya digunakan kembali sebagai sekolah. Kali ini Belanda menggantinya dengan sekolah dasar pertama untuk anak Ambon, Iste Europeesche Lagere Ambongsche. Sekolah tersebut mampu bertahan selama 12 tahun hingga tahun 1942 bersamaan dengan berakhirnya penjajahan Hindia Belanda yang direbut oleh pasukan militer Jepang. Pada akhirnya gedung tersebut dipakai sebagai Sekolah Dasar Ngupasan 1 hingga saat ini.
Ada fenomena yang menarik selama gedung sekolah itu digunakan sebagai sekolah dasar untuk anak ambon. Fenomena tersebut adalah setiap masuk dan pulang sekolah murid-murid asal Ambon itu harus dikawal ketat oleh serdadu KNIL. Hal itu dikarenakan anak-anak Ambon tersebut terkenal sangat berandal dan sulit diatur. Maka muncul inisiatif untuk membuat pengawalan khusus bagi murid-murid yang bersangkutan.
Pada awalnya murid-murid berbaris panjang dan dikawal minimal tiga serdadu KNIL tiap barisan. Akan tetapi, walaupun sudah dikawal ketat, kejar-kejaran antara murid Ambon dengan tentara tetap seringkali terjadi. Bahkan serdadu KNIL pernah melakukan hal yang sangat ekstrem bagi para murid sekolah Iste Europeesche Lagere Ambongsche. Setiap murid dalam barisan diikat dengan tali tampar yang panjang. Ikatan tali yang membuat murid-murid Ambon itu tidak bisa melawan. Tindakan ekstrem itu dilakukan mungkin dikarenakan tentara KNIL itu sangat kewalahan mengurus mereka sehingga terpaksa menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi.  
Pemerintahan Hindia Belanda juga mengurangi sebagian lahan Loji Kebon untuk dijadikan lahan pembangunan gedung pengadilan negeri. Akan tetapi, fungsi gedung sebagai pengadilan negeri tidak bertahan lama. Fungsi gedung kemudian berubah menjadi untuk pengadilan ngupasan atau dalam bahasa populernya, rumah gadai. Niat pemerintah Belanda mengalihfungsikan gedung tersebut menjadi rumah gadai agar bisa menolonng masyarakat yang butuh uang tunai untuk keperluannya. Rumah gadai tersebut juga berfungsi memberikan kredit ringan untuk memberantas ijon[1] dan lintah darat yang kerap menindas masyarakat.
Di sebelah selatan gedung utama, terdapat tempat yang berfungsi sebagai pusat hiburan bagi orang Belanda dan bangsawan, yaitu gedung Societet der Vereniging atau Balai Pertemuan Persatuan. Orang-orang Indonesia biasa menyebutnya kamar bola. Disebut begitu karena banyak orang-orang Belanda datang pada akhir pekan untuk bermain bowling. Mereka menerjemahkan bowling ini sesuai dengan lafal bahasa melayu, bola.

Gedung seni-sono

sumber: http://bit.ly/fFj2Xl


Setiap akhir pekan gedung Societet der Vereniging ramai dikunjungi.  apalagi jika para pegawai tersebut telah terima gaji dari pemerintah. Pada masanya, gedung tersebut terbilang memiliki fasilitas hiburan yang cukup lengkap. Di sana pengunjung bisa datang untuk bermain musik dan berdansa. Selain itu, ada juga berbagai fasilitas untuk rowlette, judi balap kuda, dan lain-lain.
Tempat hiburan itu pun ternyata tidak lama usianya. Sebab, inggris datang dan mengebom gedung Societet der Vereniging ketika pihak sekutu ikut menyerang untuk merebut wilayah Indonesia dari Jepang. Maka gedung pun hancur dan hanya menyisakan schouwburg (panggung utama) di bagian depan ruangan. Sisa bangunan yang dibom kemudian dibangun kembali menjadi gedung seni-sono.
Keberadaan Arca
Di dalam komplek Gedung Agung, terdapat banyak sekali arca-arca dan patung dewa dalam terminologi agama Hindu dan Budha. Di sana didapati beberapa Arca Ganesha, Arca Dwarapa, dan masih banyak lagi jenis patung yang namanya pun tidak ketahui oleh guide istana. Hal ini terlihat aneh karena Hindu dan Budha adalah agama yang dianut oleh orang Indonesia bukan Belanda. Lalu, kenapa ada banyak arca-arca Hindu dan Budha di Gedung Agung?
Diperkirakan, sebagian dari arca tersebut dulunya merupakan koleksi meneer-meneer Belanda penghuni awal Gedung Agung. Menurut keterangan Soekmono, arkeolog pertama bangsa Indonesia, arca-arca kuno itu kemungkinan besar berasal dari dataran Prambanan dan dataran Sorogedug. Kemudian artefak-artefak kuno itu diangkuti ke Statiran (Rumah kediaman Administratir) di Yogyakarta (Candi-candi di Sekitar Prambanan, 1974). Sepeninggal Belanda, artefak-artefak kuno itu dibiarkan di sana hingga kini. (Djulianto Susantio, 2010)
Koleksi-koleksi arca di Gedung Agung hingga saat ini cukup banyak dan tersebar di beberapa titik komplek Gedung Agung. Di dekat pintu gerbang Gedung Agung terdapat Arca Dwarapa setinggi dua meter. Di halaman depan istana juga terdapat beberapa arca yang mengelilingi tiang bendera. Staff rumah tangga istana juga mengonsentrasikan beberapa arca yang berserakan di banyak tempat ke samping Gedung Seni Sono.  
Di salah satu sisi Halaman istana depan gedung utama juga terdapat monumen Dagoba. Monumen ini tingginya sampai 3,5 meter dan terbuat dari batu andesit. Dagoba berasal dari Desa Cupuwatu, di dekat Candi Prambanan. Orang yogyakarta menyebutnya Tugu Lilin karena tampak seperti lilin yang senantiasa menyala. Lilin tersebut melambangkan kerukunan beragama antara Hindu dan Budha. Agama Hindu Siwa diwakili oleh lambang lingga yang menopang stupa. Adapun stupa sendiri sebagai simbolisasi agama Budha. 


Tugu lilin Foto: Danastri

Pada akhirnya Gedung Agung atau Loji Kebon masih memiliki cerita panjang yang banyak dari kita belum ketahui. Minimnya data sejarah lebih-lebih saksi mata sejarah adalah pekerjaan rumah kita bersama. Jikalau Yogyakarta sedang bergejolak soal penetapan sultan berikut klaim sejarahnya, maka kesadaran masyarakat akan pengetahuan sejarah akan semakin tinggi. Sehingga Gedung Agung pun harus berbenah untuk terus melengkapi data sejarah yang berkenaan dengan Gedung Agung. Agar pengunjung yang berdatangan melakukan studi ke sana tidak kesulitan mencari info sejarah Gedung Agung yang komprehensif.

[1] secara umum ijon adalah bentuk kredit uang yang dibayar kembali dengan hasil panenan. Ini merupakan “penggadaian” tanaman yang masih hijau, artinya belum siap waktunya untuk dipetik, dipanen atau dituai. Tingkat bunga kredit jika diperhitungkan pada waktu pengembalian akan sangat tinggi, antara 10 sampai dengan 40 persen. Umumnya pemberi kredit merangkap pedagang hasil panen yang menjadi pengembalian hutang. (http://bit.ly/gBP72B diakses 6/7/2011 pukul 10.55)

Daftar Pustaka

Artha, Arwan Tut. YOGYAKARTA TEMPO DOELOE, Sepanjang Catatan Pariwisata. Yogyakarta: BIGRAF Publishing, 2000.
 Booklet Istana Presiden Republik Indonesia, 2010.


Daftar referensi internet
http://bit.ly/gbF8St diakses pada 6/1/2011
(http://bit.ly/f0q9po /perjalanan/112-payen.html diakses pada tanggal 4/1/2010 pukul 23.37)
http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/profil/istana/yogya.html






Tanah milik siapa?


Sepotong tanah di sebelah utara Arab Saudi itu sudah menjadi saksi sejarah sejak ribuan tahun yang lalu. Dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim meninggalkan salah satu keturunannya di Yerussalem, Ishaq bin Ibrahim. Setelah dewasa, Nabi Ishaq ditugaskan untuk berda’wah dan menjadi penjaga masjid Al-Aqsha yang telah dibangun oleh Nabi Adam.
Sejarah terus berlanjut dengan lika-liku bangsa Yahudi di Palestina. Palestina telah menjadi saksi bisu kejayaan bangsa itu hingga fenomena diasporanya. Kisah pun disambung dengan diangkatnya nabi terakhir Bani Israil, Isa bin Maryam. Proses terbentuknya  agama Kristen pun tidak lepas dari tokoh-tokoh dari Yerussalem. Kuasa tanah Palestina kemudian pernah berada di atas kuasa bangsa Romawi dan gereja. Islam pun datang pada abad ketujuh dan berhasil mendapatkan kunci gerbang Palestina secara damai pada masa pemerintahan Umar bin Khatab.
Tanah Palestina kini kembali bergolak. Sejak pengambil alihan secara paksa tahun 1948 oleh Israel, perang tidak dapat dihindarkan. Konflik yang berujung pada tragedi kemanusiaan telah berlangsung puluhan tahun hingga saat ini. Setiap pihak memiliki klaim dan merasa dirinya paling benar. Lalu siapa pemilik tanah Palestina sebenarnya?
 Bangsa Yahudi
Nabi Ishaq A.S ditinggalkan bersama ibunya di Yerussalem oleh Nabi Ibrahim. Keturunan Nabi Ibrahim A.S dari Nabi Ishaq A.S banyak yang menjadi dikaruaniai tugas sebagai rasul. Mereka antara lain, Nabi Ya’qub, Yusuf, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Dais, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa ‘Alaihimussalam. Berikut adalah nabi yang berasal dari kaum Bani Israil.  
Nabi Ya’qub sebagai salah dari nabi keturunan Ishaq tinggal di negara Kan’an-Palestina bersama sebelas anaknya kecuali Yusuf yang berada di Mesir. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa keturunan Yaqub itulah sebelas suku Bani Israil berasal.
Suatu ketika datang masa paceklik yang membuat tanah Kan’an tidak lagi menghasilkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yusuf yang saat itu sudah dikaruniai kerasulan menolong ayah dan saudara-saudaranya dan memindahkan tempat tinggal mereka ke Mesir.
Maka sejak itu tinggal lah nenek moyang Bani Israil di Mesir hingga zaman Nabi Musa A.S. Pada zaman beliau, Bani Israel keturunan Nabi Ya’qub dimusuhi oleh bangsa Mesir karena kelakuan mereka sendiri. Hingga akhirnya Bani Israil kembali terusir dari Mesir. Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa A.S saat itu berhasil lolos dari kejaran maut pasukan Firaun karena mujizat yang dimiliki Nabi Musa.
Selepas pengejaran dari Firaun, Bani Israil sebenarnya telah dijanjikan untuk kembali ke negeri Kan’an, Palestina, kampung halaman leluhur mereka. Akan tetapi, dengan lancangnya Bani Israil menafikan janji Allah tersebut karena takut menyerang ke sana. Sehingga mereka diazab dengan tidak diizinkan masuk ke negeri Kan’an dan terkatung-katung di padang pasir selama 40 tahun[1]. Kedurhakaan dari orang-orang Bani Israil itu sendiri kemudian yang membuat mereka kehilangan kesempatan untuk pulang.
Setelah masa-masa hukuman empat puluh tahun tersebut Bani Israil kemudian akhirnya mendapat keberanian untuk datang menaklukan negeri Kan’an. Zaman keemasan bagi Bani Israil pun datang saat Nabi Daud dan Sulaiman memimpin mereka. Akan tetapi, setelah itu mereka jatuh lagi dalam kemungkaran sehingga Allah pun memberikan dua kali serangan yang mencerai beraikan Bani Israil. Serangan pertama dilakukan Nebuchadnezar dari Babilonia sedangkan serangan kedua datang dari bangsa Romawi[2].
Kedua serangan ini dilakukan atas dasar niat penjajahan dan penaklukan. Efek dari serangan tersebut pun membuat penduduk Bani Israil menjadi tercerai-berai bepergian mencari perlindungan. Khususnya serangan kedua yang dilakukan romawi adalah puncak kehancuran mereka. Secara berkelompok mereka pergi ke dua destinasi utama, tanah eropa dan arab. Maka terjadilah fenomena diaspora di dalam diri bangsa Yahudi.
Umat Kristiani
Betlehem dipercaya oleh mayoritas umat kristiani sebagai tempat di mana sang Messias lahir. Walapun ada beberapa kontroversi soal tempat, kepercayaan akan hal tersebut terpatri sangat kuat bagi penganut agama Kristen. Di tengah kota Betlehem terdapat sebuah gua yang dinamakan Holy Cript. Gua ini diyakini sebagai tempat spesifik Sang Messias lahir. Gereja Kelahiran pun dibangun oleh Konstantin Agung dan menjadi gereja kristus tertua sampai saat ini.
Terlepas dari perbedaan teologis soal siapa yang disalib antara umat kristiani dan muslim, agama Kristen kemudian lahir dari seorang bernama Saulus. Dia adalah orang yahudi pertama yang menyebarkan agama untuk semua orang. Agama Kristen yang dibawa Saulus dianggap sebuah pengkhianatan atas keyakinan bangsa Yahudi yang menganggap bangsanya adalah bangsa pilihan tuhan-Yahweh.
Kemudian Saul Paulus mendakwahkan agamanya kepada kerajaan Romawi yang statusnya sebagai penguasa Yerussalem. Doktrin agama yang disampaikan Saulus banyak menafikan hukum nabi-nabi Israel seperti yang dijelaskan di Zabur dan Taurat.(Abu Bakar: 2008) Dakwah Saulus Paulus bukannya tanpa rintangan, Kristen juga sempat dicurigai sebagai sebuah konspirasi menghancurkan bangsa Romawi. Walaupun kemudian pada akhirnya agama Kristen kembali diterima oleh mereka karena alasan politis. 
Agama Kristen kemudian berkembang sangat pesat justru bukan di tanah dia lahir. Bersama kerajaan Romawi di Eropa agama Kristen justru menjadi agama mayoritas. Kerinduan akan kejayaan di tanah kelahiran kristus pernah membuat umat kristiani di eropa berbondong-bondong datang mencoba menaklukan Yerussalem. Alasan lain yang mendasari kedatangan orang eropa adalah untuk menjamin keamanan rute ziarah ke Betlehem. Setidaknya sejarah mengakui kaum kristiani sempat menjadi penguasa tanah Yerussalem selama 88 tahun.  
Umat Islam
Bagi umat Islam, keberadaan masjid Al-Aqsha di Palestina adalah sebuah keistimewaan yang sangat penting. Salah satu alasannya adalah karena masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama kaum muslimin melakukan shalat. Baru setelah dua tahun berjhijrah turun ayat[3] yang memerintakan Nabi Muhammad SAW  memindakan kiblat dari Masjid Al-Aqsha ke Ka’bah di Masjidil Haram.
Masjid Al-Aqsha juga adalah saksi bisu peristiwa Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Malam itu tertanggal 27 Rajab Nabi Muhammad SAW didatangi oleh Jibril untuk sebuah misi. Misi tersebut adalah membawa Nabi Muhammad SAW ke ‘arsy menemui Allah. Sebelum perjalanan ke langit ketujuh itulah Nabi Muhammad SAW menyempatkan diri untuk shalat sunnah dua rakaat di masjid Al-Aqsha. Dalam sirah kenabian disebutkan Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad SAW diikatkan di tembok barat. Bukti paling mencolok yang saat ini kita bisa lihat adalah adanya batu yang melayang di dekat komplek masjid Al-Aqsha. Disebutkan bahwa batu tersebut adalah pijakan Buraq sebelum pergi naik ke  langit ke tujuh.
Klaim terpenting kaum muslim atas tanah Palestina adalah penaklukan yang terjadi pada masa Kekhalifahan Umar bin Khatab. Pada saat itu Palestina yang sebelumnya milik Kekaisaran Romawi telah dikuasai oleh pasukan muslimin. Akan tetapi, pemimpin kota Yerussalem, Pendeta Agung Sophronius, saat itu menolak memberikan ‘kunci’ sebagai simbol telah takluknya kota ke tangan kaum muslimin kecuali dengan satu syarat. Dia meminta Khalifah Umar bin Khatab selaku pemimpin kaum muslimin saat itu datang langsung menerima kunci kota Yerussalem.
Maka Umar Bin Khatab pun menerima permintaan Pendeta Sophronius untuk datang langsung ke Yerussalem. Kedatangan sang Amirul mukminin membuat banyak penduduk asli Yerussalem bersimpati. Selain karena sikap Khalifah yang sangat sederhana, juga karena jaminan kehidupan, keamanan, dan yang terpenting kebebasan agama dimiliki setiap orang di Yerussalem. Penaklukan Yerussalem adalah bukti bahwa setiap penakulukan yang dilakukan umat Islam selalu tidak diiringi oleh pembunuhan seluruh penduduk asli dan pemusnahan rumah ibadah.
Pada tahun 1099 Yerussalem memang menjadi milik kaum kristiani setelah pasukan Salib mengakuisisi tanah Palestina. Akan tetapi, kekuasaan mereka tidak berlangsung lama. Karena pada di penghujung tahun 1187 Sultan Shalahuddin Al-Ayubi mampu kembali merebut Yerussalem dari tangan kaum kristiani.
Terakhir kuasa tanah Yerussalem khususnya dan Palestina kembali lepas dari kekuasaan kaum muslimin. Setelah kekalahan yang dialami oleh Kekhalifahan Turki Utsmani di Perang Dunia 1 membuat tanah Palestina jatuh ke pihak sekutu. Lalu lewat perjanjian Sykes-Pycot tanah Palestina resmi menjadi milik Inggris dan diberikan kepada Israel secara tidak langsung pada tahun 1948.
Masa kini
Rebutan edisi modern kali ini terjadi antara pihak zionis yahudi bernama Israel dan negara Palestina. Konflik ini telah berlangsung selama 62 tahun dan belum ada tanda-tanda akan segara berakhir. Konflik terbuka terakhir terjadi pada akhir tahun 2009 lalu saat Israel ngotot ingin membebaskan salah seorang tentaranya yang ditawan oleh Hamas.
Selama 62 tahun itu pula Israel telah mencaplok sedikit demi sedikit tanah yang sebelumnya dimiliki oleh bangsa Palestina. Parahnya, tidak sekedar mencaplok, orang-orang Israel itu tidak segan-segan melakukan pembunuhan dan pembantaian atas nama misi kenegaraan. Sedikitnya ada 23 pembantaian besar yang telah Israel lakukan terhadap bangsa Palestina.
Seandainya kita semua sadar tanah palestina merupakan daerah yang sangat sakral bagi penganut tiga agama samawi. Di dalamnya terdapat tiga tempat suci yang amat berarti bagi setiap tiap agama. Masjid al-Aqsha adalah tempat maha penting bagi umat Islam. Juga ada Betlehem yang diyakini umat kristiani sebagai tempat kelahiran yesus. Terakhir ada tembok ratapan yang dipercaya oleh kaum yahudi sebagai sisa reruntuhan haikal sulaiman.
Di zaman yang yang semua orang menyadari soal hak asasi manusia, tidak bisa kah kita memaknai keadilan itu untuk semua golongan dan kelompok di tanah Palestina. Adakah mereka bisa mengorbankan kepentingan atas nama perdamaian. Cita-cita itu sangat utopis memang. Akan tetapi, jika bermimpi saja /ita tidak berani, bagaimana mungkin kedamaian yang sebenarnya itu betul-betul terjadi.
Daftar Pustaka
Bakar, Abu. Berebut Tanah Palestina. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.
Parker, James. Sejarah Palestina. Yogyakarta: Sketsa, 2007.
thalbah, Hisham. Mujizat Al-Quran dan Hadits. Bekasi: PT. Sapta Sentosa, 2008.
Al-Quran (2: 143-143) (5: 19-26) (17:4-8)



[1] Al-Quran (5: 19-26)
[2] Al-Quran (17:4-8)
[3] Al-Quran (2: 143-143)