Ku saksikan tubuh kecil yang letih di pinggiran jalan
Hanya beralaskan lembar koran
Berselimutkan malam
Anak jalanan. Fenomena universal yang terjadi di seluruh dunia. Mereka sebuah fenomena yg muncul bersama dengan berkembangnya kota besar di seluruh dunia. Mereka berada di perempatan jalan, angkot, bis kota, terminal, stasiun, kereta ekonomi, dan di ruang publik lain. Tempat-tempat tersebut adalah ‘lahan’ mencari uang paling strategis. Minimal hanya dengan modal sedikit kecrekan, gitar akustik mini, atau bahkan hanya dengan modal suara mereka bisa ngamen.
Pengamen mungkin pekerjaan paling umum digeluti oleh anak jalanan. Beberapa pekerjaan seperti loper koran dan tukang semir sepatu juga biasa mereka geluti. Pekerjaan yang mungkin tidak satu pun dari kita pernah coba lakukan menjadi penjamin urusan perut anak jalanan.
Saat ini keberadaan anak jalanan menjadi hal yang lumrah di mata kita. Seperti layaknya kesalahan yang dikatakan berkali-kali menjadi sebuah kebenaran. Maka semakin sering kita melihat anak jalanan, setiap pekan, setiap hari, dan bahkan setiap kita keluar rumah, mata kita semakin akrab dengan anak jalanan. Otak kita kemudian memproses bahwa anak jalanan tidak lagi menjadi masalah, tetapi sesuatu yang normal.
Ada faktor umum dan pendorong fenomena anak jalanan. Faktor penyebab munculnya anak jalanan yang paling umum terjadi adalah masalah uang. Jika memakai angka pendapatan per kapita 2 dollar AS per hari sesuai dengan standar kemiskinan versi Bank Dunia, di Indonesia terdapat 100 juta orang miskin. Angka yang sangat menjelaskan kenapa kita bisa menemukan anak jalanan di mana-mana. Faktor pendorongnya yaitu keinginan anak itu sendiri, karena prihatin terhadap kondisi kehidupan orang tua dan keluarganya. Atau mungkin juga karena ingin mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Pada dasarnya siapa pun orang tua, nuraninya tidak akan sampai hati membiarkan anak-anak mereka ikut mencari makan. Akan tetapi, sebagai kaum papa yang tidak berdaya, mereka harus berdamai dengan keadaan yang menghimpit. Maka bertebaran lah anak-anak itu di sekitaran di jalan, stasiun,dan terminal.
Di jalan, Salah satu kelompok anak jalanan yang spesifik adalah anak punk. Mereka kita bisa kenali dengan dandanannya yang khas. Cat rambut warna-warni, celana pensil, kaos hitam, dan lain sebagainya. Member anak punk ini biasa datang dari keluarga broken home atau remaja yg mencari kebebasan dari sekolah dan lingkungannya. Komunitas tersebut terbentuk oleh adanya kesamaan nasib dan kesamaan jenis musik yang mereka sukai.
Jumlah anak jalanan faktanya terus bertambah tiap tahun. Jumlah anak Indonesia (0-18 tahun) menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2006 mencapai 79,8 juta anak. Mereka yang masuk kategori telantar dan hampir telantar mencapai 17,6 juta atau 22,14 persen. Menurut Komisi Perlindungan Anak, hampir separuhnya berada di Jakarta. Sisanya tersebar ke kota-kota besar lainnya seperti Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja ,Surabaya, Malang dan Makasar. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup dan masa depan anak-anak sangat memperihatinkan, padahal mereka adalah aset, investasi SDM dan sekaligus tumpuan masa depan bangsa.
Untung saja pemerintah memiliki fasilitas sekolah gratis. Maka setidaknya anak-anak jalanan itu masih bisa merasakan bangku sekolah. Walaupun belum tentu mereka memang senang bersekolah. Dalam banyak kasus, bocah-bocah jalanan memang lebih senang berada di jalan daripada mengikuti proses kegiatan belajar mengajar formal. Karena jalanan memang menawarkan kebebasan dan uang instan untuk jaminan makan mereka hari. Berbeda dengan sekolah yang tidak menawarkan uang untuk makan, tawaran berupa masa depan terlihat begitu bias di mata mereka. Bagaimana mungkin memikirkan masa depan jika untuk makan hari ini saja masih harus ngamen?
Insting manusia untuk hidup berkelompok juga berlaku untuk anak jalanan. Biasanya mereka memilki kelompok kecil beranggotakan tiga sampai sepuluh orang. Setiap anggota memiliki persaudaraan yang sangat kuat antar sesamanya. Ada rasa untuk saling mengisi dan melengkapi diantara mereka. Dengan anggota kelompok juga anak jalanan akan saling berbagi pendapatan harian. Usai kerja seluruh anggota kelompok akan berkumpul dan menghitung total uang yang didapat. Total uang tersebut kemudian dibagi rata sejumlah anggota kelompok. Sebuah persaudaraan yang indah dan nasib telah menyatukan mereka.
Kelompok itu membantu anak jalanan untuk bertahan hidup. Karena layaknya berdagang tidak setiap hari mendapat untung. Roda nasib berputar terkadang dapat banyak terkadang tidak. Seorang pengamen yang ditemui di stasiun Lempuyangan bercerita bahwa dia bisa pulang dengan dua puluh ribu sehari. Itu hasil yang ia dapat setelah digabung dan dibagi teman sekelompoknya. Padahal hasil mengamennya seharian jarang sekali mendapat uang sebesar itu.
Menjadi pengamen mungkin bukan sebuah pilihan bagi mereka. Tuntutan hidup untuk mengisi perut dengan makanan yang layak menjadi motivasi utama. Perkara kehidupan jalanan membuatnya nyaman atau tidak tentu bergantung kepada kondisi setiap individu. Walaupun katanya anak-anak jalanan itu menjadi tanggungan pemerintah di dalam undang-undang. Faktanya adalah itu semua hanya ideologi yang tertulis. Kini tanggung jawab itu bukan lagi milik pemerintah, tetapi tanggungan kita semua.
No comments:
Post a Comment