Wednesday, 2 February 2011

Tanah milik siapa?


Sepotong tanah di sebelah utara Arab Saudi itu sudah menjadi saksi sejarah sejak ribuan tahun yang lalu. Dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim meninggalkan salah satu keturunannya di Yerussalem, Ishaq bin Ibrahim. Setelah dewasa, Nabi Ishaq ditugaskan untuk berda’wah dan menjadi penjaga masjid Al-Aqsha yang telah dibangun oleh Nabi Adam.
Sejarah terus berlanjut dengan lika-liku bangsa Yahudi di Palestina. Palestina telah menjadi saksi bisu kejayaan bangsa itu hingga fenomena diasporanya. Kisah pun disambung dengan diangkatnya nabi terakhir Bani Israil, Isa bin Maryam. Proses terbentuknya  agama Kristen pun tidak lepas dari tokoh-tokoh dari Yerussalem. Kuasa tanah Palestina kemudian pernah berada di atas kuasa bangsa Romawi dan gereja. Islam pun datang pada abad ketujuh dan berhasil mendapatkan kunci gerbang Palestina secara damai pada masa pemerintahan Umar bin Khatab.
Tanah Palestina kini kembali bergolak. Sejak pengambil alihan secara paksa tahun 1948 oleh Israel, perang tidak dapat dihindarkan. Konflik yang berujung pada tragedi kemanusiaan telah berlangsung puluhan tahun hingga saat ini. Setiap pihak memiliki klaim dan merasa dirinya paling benar. Lalu siapa pemilik tanah Palestina sebenarnya?
 Bangsa Yahudi
Nabi Ishaq A.S ditinggalkan bersama ibunya di Yerussalem oleh Nabi Ibrahim. Keturunan Nabi Ibrahim A.S dari Nabi Ishaq A.S banyak yang menjadi dikaruaniai tugas sebagai rasul. Mereka antara lain, Nabi Ya’qub, Yusuf, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Dais, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa ‘Alaihimussalam. Berikut adalah nabi yang berasal dari kaum Bani Israil.  
Nabi Ya’qub sebagai salah dari nabi keturunan Ishaq tinggal di negara Kan’an-Palestina bersama sebelas anaknya kecuali Yusuf yang berada di Mesir. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa keturunan Yaqub itulah sebelas suku Bani Israil berasal.
Suatu ketika datang masa paceklik yang membuat tanah Kan’an tidak lagi menghasilkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Yusuf yang saat itu sudah dikaruniai kerasulan menolong ayah dan saudara-saudaranya dan memindahkan tempat tinggal mereka ke Mesir.
Maka sejak itu tinggal lah nenek moyang Bani Israil di Mesir hingga zaman Nabi Musa A.S. Pada zaman beliau, Bani Israel keturunan Nabi Ya’qub dimusuhi oleh bangsa Mesir karena kelakuan mereka sendiri. Hingga akhirnya Bani Israil kembali terusir dari Mesir. Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa A.S saat itu berhasil lolos dari kejaran maut pasukan Firaun karena mujizat yang dimiliki Nabi Musa.
Selepas pengejaran dari Firaun, Bani Israil sebenarnya telah dijanjikan untuk kembali ke negeri Kan’an, Palestina, kampung halaman leluhur mereka. Akan tetapi, dengan lancangnya Bani Israil menafikan janji Allah tersebut karena takut menyerang ke sana. Sehingga mereka diazab dengan tidak diizinkan masuk ke negeri Kan’an dan terkatung-katung di padang pasir selama 40 tahun[1]. Kedurhakaan dari orang-orang Bani Israil itu sendiri kemudian yang membuat mereka kehilangan kesempatan untuk pulang.
Setelah masa-masa hukuman empat puluh tahun tersebut Bani Israil kemudian akhirnya mendapat keberanian untuk datang menaklukan negeri Kan’an. Zaman keemasan bagi Bani Israil pun datang saat Nabi Daud dan Sulaiman memimpin mereka. Akan tetapi, setelah itu mereka jatuh lagi dalam kemungkaran sehingga Allah pun memberikan dua kali serangan yang mencerai beraikan Bani Israil. Serangan pertama dilakukan Nebuchadnezar dari Babilonia sedangkan serangan kedua datang dari bangsa Romawi[2].
Kedua serangan ini dilakukan atas dasar niat penjajahan dan penaklukan. Efek dari serangan tersebut pun membuat penduduk Bani Israil menjadi tercerai-berai bepergian mencari perlindungan. Khususnya serangan kedua yang dilakukan romawi adalah puncak kehancuran mereka. Secara berkelompok mereka pergi ke dua destinasi utama, tanah eropa dan arab. Maka terjadilah fenomena diaspora di dalam diri bangsa Yahudi.
Umat Kristiani
Betlehem dipercaya oleh mayoritas umat kristiani sebagai tempat di mana sang Messias lahir. Walapun ada beberapa kontroversi soal tempat, kepercayaan akan hal tersebut terpatri sangat kuat bagi penganut agama Kristen. Di tengah kota Betlehem terdapat sebuah gua yang dinamakan Holy Cript. Gua ini diyakini sebagai tempat spesifik Sang Messias lahir. Gereja Kelahiran pun dibangun oleh Konstantin Agung dan menjadi gereja kristus tertua sampai saat ini.
Terlepas dari perbedaan teologis soal siapa yang disalib antara umat kristiani dan muslim, agama Kristen kemudian lahir dari seorang bernama Saulus. Dia adalah orang yahudi pertama yang menyebarkan agama untuk semua orang. Agama Kristen yang dibawa Saulus dianggap sebuah pengkhianatan atas keyakinan bangsa Yahudi yang menganggap bangsanya adalah bangsa pilihan tuhan-Yahweh.
Kemudian Saul Paulus mendakwahkan agamanya kepada kerajaan Romawi yang statusnya sebagai penguasa Yerussalem. Doktrin agama yang disampaikan Saulus banyak menafikan hukum nabi-nabi Israel seperti yang dijelaskan di Zabur dan Taurat.(Abu Bakar: 2008) Dakwah Saulus Paulus bukannya tanpa rintangan, Kristen juga sempat dicurigai sebagai sebuah konspirasi menghancurkan bangsa Romawi. Walaupun kemudian pada akhirnya agama Kristen kembali diterima oleh mereka karena alasan politis. 
Agama Kristen kemudian berkembang sangat pesat justru bukan di tanah dia lahir. Bersama kerajaan Romawi di Eropa agama Kristen justru menjadi agama mayoritas. Kerinduan akan kejayaan di tanah kelahiran kristus pernah membuat umat kristiani di eropa berbondong-bondong datang mencoba menaklukan Yerussalem. Alasan lain yang mendasari kedatangan orang eropa adalah untuk menjamin keamanan rute ziarah ke Betlehem. Setidaknya sejarah mengakui kaum kristiani sempat menjadi penguasa tanah Yerussalem selama 88 tahun.  
Umat Islam
Bagi umat Islam, keberadaan masjid Al-Aqsha di Palestina adalah sebuah keistimewaan yang sangat penting. Salah satu alasannya adalah karena masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama kaum muslimin melakukan shalat. Baru setelah dua tahun berjhijrah turun ayat[3] yang memerintakan Nabi Muhammad SAW  memindakan kiblat dari Masjid Al-Aqsha ke Ka’bah di Masjidil Haram.
Masjid Al-Aqsha juga adalah saksi bisu peristiwa Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Malam itu tertanggal 27 Rajab Nabi Muhammad SAW didatangi oleh Jibril untuk sebuah misi. Misi tersebut adalah membawa Nabi Muhammad SAW ke ‘arsy menemui Allah. Sebelum perjalanan ke langit ketujuh itulah Nabi Muhammad SAW menyempatkan diri untuk shalat sunnah dua rakaat di masjid Al-Aqsha. Dalam sirah kenabian disebutkan Buraq, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad SAW diikatkan di tembok barat. Bukti paling mencolok yang saat ini kita bisa lihat adalah adanya batu yang melayang di dekat komplek masjid Al-Aqsha. Disebutkan bahwa batu tersebut adalah pijakan Buraq sebelum pergi naik ke  langit ke tujuh.
Klaim terpenting kaum muslim atas tanah Palestina adalah penaklukan yang terjadi pada masa Kekhalifahan Umar bin Khatab. Pada saat itu Palestina yang sebelumnya milik Kekaisaran Romawi telah dikuasai oleh pasukan muslimin. Akan tetapi, pemimpin kota Yerussalem, Pendeta Agung Sophronius, saat itu menolak memberikan ‘kunci’ sebagai simbol telah takluknya kota ke tangan kaum muslimin kecuali dengan satu syarat. Dia meminta Khalifah Umar bin Khatab selaku pemimpin kaum muslimin saat itu datang langsung menerima kunci kota Yerussalem.
Maka Umar Bin Khatab pun menerima permintaan Pendeta Sophronius untuk datang langsung ke Yerussalem. Kedatangan sang Amirul mukminin membuat banyak penduduk asli Yerussalem bersimpati. Selain karena sikap Khalifah yang sangat sederhana, juga karena jaminan kehidupan, keamanan, dan yang terpenting kebebasan agama dimiliki setiap orang di Yerussalem. Penaklukan Yerussalem adalah bukti bahwa setiap penakulukan yang dilakukan umat Islam selalu tidak diiringi oleh pembunuhan seluruh penduduk asli dan pemusnahan rumah ibadah.
Pada tahun 1099 Yerussalem memang menjadi milik kaum kristiani setelah pasukan Salib mengakuisisi tanah Palestina. Akan tetapi, kekuasaan mereka tidak berlangsung lama. Karena pada di penghujung tahun 1187 Sultan Shalahuddin Al-Ayubi mampu kembali merebut Yerussalem dari tangan kaum kristiani.
Terakhir kuasa tanah Yerussalem khususnya dan Palestina kembali lepas dari kekuasaan kaum muslimin. Setelah kekalahan yang dialami oleh Kekhalifahan Turki Utsmani di Perang Dunia 1 membuat tanah Palestina jatuh ke pihak sekutu. Lalu lewat perjanjian Sykes-Pycot tanah Palestina resmi menjadi milik Inggris dan diberikan kepada Israel secara tidak langsung pada tahun 1948.
Masa kini
Rebutan edisi modern kali ini terjadi antara pihak zionis yahudi bernama Israel dan negara Palestina. Konflik ini telah berlangsung selama 62 tahun dan belum ada tanda-tanda akan segara berakhir. Konflik terbuka terakhir terjadi pada akhir tahun 2009 lalu saat Israel ngotot ingin membebaskan salah seorang tentaranya yang ditawan oleh Hamas.
Selama 62 tahun itu pula Israel telah mencaplok sedikit demi sedikit tanah yang sebelumnya dimiliki oleh bangsa Palestina. Parahnya, tidak sekedar mencaplok, orang-orang Israel itu tidak segan-segan melakukan pembunuhan dan pembantaian atas nama misi kenegaraan. Sedikitnya ada 23 pembantaian besar yang telah Israel lakukan terhadap bangsa Palestina.
Seandainya kita semua sadar tanah palestina merupakan daerah yang sangat sakral bagi penganut tiga agama samawi. Di dalamnya terdapat tiga tempat suci yang amat berarti bagi setiap tiap agama. Masjid al-Aqsha adalah tempat maha penting bagi umat Islam. Juga ada Betlehem yang diyakini umat kristiani sebagai tempat kelahiran yesus. Terakhir ada tembok ratapan yang dipercaya oleh kaum yahudi sebagai sisa reruntuhan haikal sulaiman.
Di zaman yang yang semua orang menyadari soal hak asasi manusia, tidak bisa kah kita memaknai keadilan itu untuk semua golongan dan kelompok di tanah Palestina. Adakah mereka bisa mengorbankan kepentingan atas nama perdamaian. Cita-cita itu sangat utopis memang. Akan tetapi, jika bermimpi saja /ita tidak berani, bagaimana mungkin kedamaian yang sebenarnya itu betul-betul terjadi.
Daftar Pustaka
Bakar, Abu. Berebut Tanah Palestina. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.
Parker, James. Sejarah Palestina. Yogyakarta: Sketsa, 2007.
thalbah, Hisham. Mujizat Al-Quran dan Hadits. Bekasi: PT. Sapta Sentosa, 2008.
Al-Quran (2: 143-143) (5: 19-26) (17:4-8)



[1] Al-Quran (5: 19-26)
[2] Al-Quran (17:4-8)
[3] Al-Quran (2: 143-143) 

No comments:

Post a Comment